SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU

SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU: perangkap teori

Terkadang kata “teori” memang menakutkan. Beberapa teori sosial seringkali sulit dipahami, dangkal, atau bahkan tak memiliki tujuan yang jelas. Terkadang pembaca teori-teori sosial tak mengerti apa sebenarnya yang mereka baca. Namun bagaimanapun teori sangat berguna dalam memahami sistem yang hendak didekati. Teori sosial sepantasnya berguna untuk mendekati sistem sosial. Konstruksi teori adalah sebuah tahapan dari seluruh pekerjaan dan metodologi ilmiah. Teori lahir dari serangkaian perjuangan yang menggunakan akal sehat, hipotesis, dan eksperimen yang dapat digunakan di luar laboratorium dan sekadar impian para ilmuwan. Teori sosial adalah teori yang tak menggunakan kelinci sebagai obyek percobaan, tak pula memiliki larutan kimia atau proposisi logika yang hendak dipermainkan sedemikian oleh para ilmuwan sebagaimana para fisikawan, kimiawan, atau matematikawan. Teori sosial berada di area gejala yang terlihat di siang hari selama riset dan malam hari menjadi bahan perenungan para ilmuwan sosial. Mungkin boleh-boleh saja para ilmuwan memodelkan aktivitas manusia sebagai aktivitas elektron, dan berbagai benda-benda elementer yang unik sebagaimana yang didekati para fisikawan, namun yang pasti elektron memiliki rule dan hukum yang jelas yang selalu dipatuhi olehnya. Aktivitas sebuah elektron akan jelas jika berada di dalam medan listrik positif atau negatif, namun tingkah laku manusia tidak mengikuti rule atau hukum se-teratur elektron. Manusia jauh lebih liar, tingkah lakunya berada di dalam lingkaran chaotik yang pendekatan sederhana tak akan mampu mendekatinya. Meski ini kedengaran sebagai sebuah apologia bagi teoretisi sosial, atas kerumitan yang dikandung konstruksi ilmiah teori sosial, namun ini bukanlah hal yang mudah untuk menerima kesulitan yang timbul saat memahami sebuah teori sosial. Dalam proses pemikiran teoretis beberapa hal bisa menjadi salah dan ini menjadi hal yang membingungkan.

Secara mendasar, ada beberapa perangkap di dalam pemikiran teoretis:

1. “perangkap teka-teki silang”.
Ironis, karena buku yang paling banyak berpengaruh dalam perkembangan ilmu sosial secara ironis bukanlah buku-buku sosiologi, melainkan justru buku-buku dari ilmu alam. Aktivitas ilmuwan sosial seringkali (sebagaimana ilmuwan ilmu alam) berupaya untuk melakukan manipulasi beberapa aspek alami yang diisolasi dalam beberapa situasi eksperimental untuk memuaskan paradigma. Ini seperti permainan teka-teki silang: kotak-kotak telah ada sedemikian dan kita mengisi kotak-kotak kosong itu dengan petunjuk yang ada sebagai pertanyaan dari teka-teki silang tersebut. Kompleksitas yang ada di kawasan sistem sosial seringkali tak disadari dan hal ini memberikan upaya untuk mengejar metanarasi dalam ilmu sosial yang akhirnya melahirkan reduksi, mereduksi kompleksitas menjadi sekumpulan konsep teoretis yang tak bisa berbunyi apa-apa di tataran praksis.

2. “perangkap penggoda pikiran”.
Seringkali dalam upaya menjelaskan sesuatu hal pemikiran teoretik terjebak ke dalam penjelasan sekunder ke hal lain yang jauh dari permasalahan yang seharusnya didekati. Itulah barangkali sebabnya ada tren untuk melakukan kritik terhadap teori-teori sebelumnya semenjak zaman pencerahan. Ilmuwan sosial seringkali “tergoda” untuk berbicara berbagai hal yang jauh dari permasalahan yang sedang dihadapi dalam realitas sosial, mungkin sebagai contoh adalah perdebatan pengertian “kemiskinan”, suatu hal yang jauh dari kemiskinan yang benar-benar terjadi dalam realitas sosial. Ini tentu dapat dikatakan terjadi dari berbagai faktor semiologis tekstual sebagai rahim dari segala bentuk teori.

3. “perangkap logika”.
boleh jadi sesuatu yang aneh, sebab sebuah teori tentunya berasal dari upaya mencari koherensi logis dari berbagai fakta atau bagian-bagian yang hendak didekati oleh ilmu sosial. Dalam perkembangan teori sosial pada dasarnya kita bisa melihat bahwa saat pendekatan teoretis berusaha mencari koherensi internal, secara umum dunia ini berjalan secara ilogis – atau berjalan dengan logika yang lain dari logika yang ditemui secara internal. Seringkali teoretisi sosial menemukan faktor membrojol yang tak diduga-duga sebelumnya bakal muncul dalam realitasnya – sekaligus, inilah yang menjadi kelemahan teori sosial bersangkutan.

4. “perangkap deskripsi”.
di mana seringkali deskripsi yang dilakukan dalam konstruksi sebuah teori sosial ternyata keliru, hal ini ditemui saat dilakukan upaya implementatif dari teori tersebut. Seringkali ada kecenderungan untuk sulit membedakan mana deskripsi dan mana penjelasan. Sangat sering ilmuwan sosial merasa sudah menjelaskan sesuatu padahal sebenarnya hanya melakukan deskripsi, yang berakibat teori tersebut tidak mengatakan apa-apa. Teori sosial seringkali hanya melakukan deskripsi tanpa menjelaskan.

SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU: dimensi
Untuk mencegah kita terjebak dalam perangkap-perangkap teoretik, kita akan mencoba mendiskusikan dimensi-dimensi ilmu sosial. Pada dasarnya, dikenal empat jenis dimensi dalam pendekatan teori sosial.

1. Dimensi kognitif.
Dalam dimensi ini, ilmuwan sosial akan selalu berbicara mengenai teori sosial sebagai cara untuk membangun pengetahuan tentang dunia sosial. Di sini terletak epistemologi yang membangun berbagai metodologi penelitian sosial.

2. Dimensi afektif.
Merupakan sebuah kondisi di mana teori yang dibangun memuat pengalaman dan perasaan dari teoretisi yang bersangkutan. Dimensi ini mempengaruhi keinginan untuk mengetahui (to know) dan menjadi benar (to be right) – kedua hal ini bertitik berat kepada kejadian tertentu dan realitas eksternal.

3. Dimensi reflektif.
Di sini, teori sosial harus menjadi bagian dari dunia sebagaimana ia menjadi cara untuk memahami dunia. Dengan kata lain, teori sosial harus mencerminkan apa yang terjadi di luar sana dan apa yang terjadi pada kita sebagai salah satu elemen dari sistem sosial yang ada.

4. Dimensi normatif, yang memperluas dimensi ketiga.
Dalam dimensi ini, teori sosial sepantasnya memuat secara implisit ataupun eksplisit tentang bagaimana seharusnya dunia yang direfleksikannya itu. Keempat dimensi ini membangun seluruh pendekatan dalam proses kostruksi teori-teori sosial yang ada.

Cerita tentang spekulasi masih terus, tapi tak lagi berbicara hal-hal di awang-awang. Para filsuf sosial mulai berbicara tentang hal-hal teknis dan bagaimana mengatur masyarakat dengan ilmu yang berdiri di atas spekulasi ini.

Karl Marx (1818-1883), filsuf sosial Jerman yang sangat terkenal itu menantang pandangan kapitalisme yang telah berhasil menjadi landasan struktur ekonomi. Dalam bukunya yang ditulis dalam 3 volume, ia menelaah apa yang tengah terjadi saat itu yang ditemuinya dalam kesehariannya. Ia dibantu sahabatnya, Frederic Engels (1820-1895), mereka berdua mendirikan sosialisme ilmiah, komunisme. Tak lagi berbicara ide-ide, berbicara soal dunia dewa-dewa, mereka membedah situasi masyarakat yang ada. Mereka melihat bagaimana kapitalisme gagal dan banyak membuat orang sengsara. Filsafatnya berusaha membumi. Namun bagaimana akibatnya? Jika Smith berusaha memisahkan ekonomi politik dengan politik negara, Marx dan Engels menggabungkan keduanya. Penting bagi mereka untuk melihat persaingan, kompetisi, sebagai hal yang mesti dicampuri. Keadilan tak diperoleh dengan membebaskan penguasa ekonomi menjadi lebih kuat dari penguasa politik. Ilmu politik mereka bersandar pada ekonomi dan pandangan materialisme yang melihat secara nyata keadaan sekitar, mereka mencoba meramal, suatu saat akan ada perubahan sosial yang dahsyat yang mengganggu ekonomi yang berlandaskan kapitalisme. Teorinya adalah tentang teori perjuangan kelas ekonomi: kelas ekonomi lemah dan kelas ekonomi kuat. Ekonomi lemah akan melakukan perjuangan perubahan nasib atas penindasan ekonomi kuat. Semuanya bersifat teoretis dan keilmuan bagi mereka, meski tetap dipengaruhi oleh berbagai spekulasi pendahulu mereka. Namun nasib pandangan keduanya yang ingin membentuk teori ilmiah menjadi lain saat bertemu dengan kondisi praktis dari politik. Jauh setelah mereka meninggal dunia, dunia terbelah dua, komunis versus kapitalis. Keduanya berevolusi dengan permainan politik yang implementatif dan praktis yang jauh dari perkiraan sebelumnya. Politikus “mempermainkan” teori-teori mereka sedemikian untuk mempercepat revolusi, taktis, strategis, dan sudah tak lagi menjadi ilmiah, karena buku Marx menjadi kultus. Sistem ekonomi negara komunis dipusatkan pada pemerintah. Setiap hari menjadi revolusioner, terjadi keresahan, hingga negara-negara komunis runtuh di kemudian hari.

Bagaimana nasib sosiologi? Di beberapa negara komunis ilmu politik dan ideologi menguasai sosiologi. sangat sedikit perkembangan sosiologi di negeri komunis yang memang berkecenderungan menjadi diktator bahkan fasis. Sosiologi masih berkembang. Ia malah belajar banyak dari kemelut dan krisis sosial yang ada.

Pada zaman yang tak begitu jauh dari Marx, Alexis de Tocqueville (1805-1859), ilmuwan politik sekaligus bangsawan Perancis, menulis buku tentang demokrasi. Sedikit ia berbicara soal ekonomi. Ia mempelajari cara berpolitik orang Amerika Serikat. Tocqueville mencatat dan secara sederhana menganalisis politik Amerika, mengapa? Karena baginya, situasi di Amerikalah satu-satunya tempat di dunia di mana pikiran-pikiran sosiologis yang tadinya berkembang di Eropa diuji secara bebas dalam masyarakat. Salah satu kesimpulannya tentang demokrasi yang sangat menarik adalah keyakinannya bahwa pendapat publik juga dapat berubah menjadi tirani yang juga menindas masyarakat, tak berbeda dengan tirani pada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seoarang raja yang diktator.

Lain lagi di Inggris, filsuf John Stuart Mill (1806-1873), banyak berbicara dan menyumbangkan pikiran dalam bidang ilmu politik ekonomi, logika, dan etika. Dalam tradisi dan aliran filsafat, Mill dikenal memiliki karakter pemikiran yang sangat dipengaruhi oleh empirisisme di Inggris yang terpengaruh oleh filsuf David Hume (1711-1776) dan utilitarianisme Jeremy Bentham (1748-1832), filsuf Inggris lainnya.

Dalam kajian filsafat, secara sederhana, empirisisme merupakan doktrin filsafat yang menekankan bahwa semua pengetahuan harus disandarkan pada pengalaman, dan menolak kemungkinan munculnya gagasan yang muncul tiba-tiba tanpa proses mengalami. Di sisi lain, utilitarianisme merupakan doktrin etika yang menunjukkan bahwa apa-apa yang baik adalah apa-apa yang memiliki kegunaan, dan nilai etis dari setiap tindakan dilihat dari kegunaan yang diperoleh sebagai hasil dari tindakan tersebut. Kedua pemikiran inilah yang menjadi tempat berpijak sosiologi primitif dari Mill.
Pemikiran Mill yang patut dicatat adalah tentang kebebasan individual dan bahwa kebijakan apapun dari pemerintah tidak boleh bertentangan dengan kebebasan individu. Agak mirip dengan Tocqueville, Mill menekankan bahwa kebebasan individual dapat terancam baik oleh pendapat sosial maupun oleh tirani politik. Secara praktis, Mill juga memiliki beberapa pendapat soiologis yang menarik, seperti kepemilikan sumber daya alam oleh individu, kesamaan antara laki-laki dan perempuan (kesetaraan gender), pentingnya pendidikan, dan keluarga berencana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: