MERETAS JALAN SOSIOLOGI: set-back posmodernisme

Jika kita membicarakan sosiologi dan sejarah yang melahirkannya, seringkali kita terjebak pada diskusi filsafat dan metafisika yang menjadi dasar transendental lahirnya sebuah teori sosiologis. Ini tak terjadi pada bidang ilmu alam, karena memang ilmu alam memiliki seperangkat piranti empiris yang segera dapat menguji keabsahan sebuah teori. Sistem sosial sangat berbeda dengan sistem di alam, karena ia sangat dekat dengan manusia dan kehidupan sosialnya, obyek sains yang sangat tinggi derajat kebebasan ruang pengalamannyaPengalaman ini dialami oleh alam filosofis yang dikenal dengan posmodernisme. Pada awalnya, posmodernisme adalah sebuah terminologi yang diungkapkan oleh sosiolog Perancis, Jean-François Lyotard (1924-1998). Lyotard pada awalnya tertarik pada studi-studi fenomenologi, dan filsafat paganisme. Ia berubah haluan dengan banyak berbicara tentang kondisi posmodernisme. Dalam paradigma Lyotard, kondisi posmodernisme adalah kondisi ketidakpercayaan sosial atas metanarasi. Metanarasi diartikan sebagai cerita atau teori keseluruhan tentang sejarah dan tujuan dari manusia yang menjadi dasar dan pengabsahan pengetahuan dan praktik budaya. Lyotard menggambarkan bagaimana situasi sosial setelah sekian lama dalam era modernisme (pasca pencerahan) dalam mengembangkan teknologi komputer, digitalisasi di mana-mana dan sebagainya dan mengkontraskannya dengan pendekatan filsafat sosial klasik seperti Hegel, Marx, dan seterusnya.

Belakangan, pendapat tentang posmodernisme yang seringkali memang bersandar pada studi linguistik Swiss, Ferdinand de Saussure (1857-1913), berkembang menjadi studi filsafat dan linguistik yang juga menghasilkan klaim-klaim dalam ilmu sosial. Inti pendekatan linguistik (disebut dengan istilah INTERTEKSTUALITAS) difahami sebagai rantai elemen bahasa yang bebas makna, karena satu kata ber-referensi atas kata lain, dan kata lain ber-referensi atas kata lain dan seterusnya dalam rantai yang luar biasa panjang. Hal ini memunculkan di antaranya filsuf sosial dan kritikus budaya Perancis yang sarat kontroversi, Jean Baudrillard, dua orang teoretisi Perancis, Gilles Deleuze dan Felix Guattari, teoretisi Frederic Jameson, dan sebagainya, dengan berbagai pendapat dan terminologi yang mengimpor istilah-istilah sains, khususnya fisika seperti teori chaos, dan sebagainya yang dianggap memelintir makna istilah tersebut dari makna aslinya di fisika. Mereka menggunakan banyak tradisi teori psikoanalisis Jaques Lacan yang seringkali pula menggunakan terminologi serupa. Hal ini dikritik dengan keras oleh fisikawan Alan Sokal, yang menunjukkan seringnya pemelintiran istilah-istilah fisika ini dalam literatur sosial dan bahkan tidak diakui sebagai sekadar metafora. Penggunaan istilah ini cenderung menjadi tren tersendiri dalam kritik budaya yang cenderung memperindah teks-teks yang ada namun cenderung miskin makna.

Hal inilah yang melahirkan apa yang disebut ‘perang sains’ antara kritikus budaya dan sekelompok fisikawan. Posmodernis atau juga akhirnya sering disebut pos-strukturalis cenderung tetap untuk ngotot dengan cara mereka. Para fisikawan tersebut di sisi lain tidak mau tahu dan menganggap hal ini sebagai bentuk impotensi dari ilmuwan sosial. Hal ini menjadi skandal dalam sains sosial, khususnya sains dan filsafat sosial Perancis abad ke-20.

Dalam ‘perang sains’ yang sangat merunyamkan pengembangan analitis sosiologi ini, beberapa ilmuwan mengembangkan MESIN DADA dengan menunjukkan bahwa filsuf-filsuf sosial tersebut memiliki semacam “ketakmampuan mental”, dirancanglah sebuah perangkat lunak komputer yang menggambarkan cara menulis ‘analisis’ dengan pendekatan-pendekatan posmodern yang cenderung menggunakan metafora-metafora yang rumit yang diimpor dari berbagai teks ilmu alam, ilmu sosial klasik, sastra dan budaya pop, pembuatan terminologi dan istilah baru, namun pada dasarnya tidak menunjukkan analisis apapun. Kita tinggal memasukkan daftar pustaka, kata kunci, dan seterusnya untuk menghasilkan karya-karya yang tak jauh berbeda dengan karya filsuf sosial posmodernisme atau disertasi doktoral dalam studi posmodernisme (diuji cobakan secara praktis dan terbukti). Hal ini merupakan tantangan yang sangat berat bagi pengembangan ilmu sosial yang datang dari kekhilafan akan lemahnya kesinambungan antara metodologi dan konstruksi teoretis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: