MERETAS JALAN SOSIOLOGI: interaksionisme simbol

Di dekat sebuah warkop, tiga ekor anjing sedang berkelahi. Anjing yang satu mulai menggertak dengan menggeram, menunjukkan deretan giginya, dan mulai mengambil ancang-ancang untuk menyergap lawannya. Anjing kedua ketakutan, lalu lari tunggang langgang karena tubuhnya memang paling kecil, sementara anjing ketiga menanggapi yang pertama dengan juga menggeram dan menunjukkan giginya, siap untuk balas menyerang. Anjing pertama setelah melihat reaksi anjing ketiga akan menunjukkan perubahan diri, ia memperkeras geramannya. Hal ini mengundang respon anjing ketiga tersebut, dan seterusnya.

Dua mahasiswa yang sedang duduk di warkop tersebut melihat anjing yang berkelahi itu, tadinya sedang bertukar cerita tentang orang tua masing-masing. Anak pertama berseru melihat anjing yang hendak berkelahi itu, dan membelokkan pembicaraan menjadi tentang anjingnya yang dua tahun lalu hilang. Ternyata anak kedua tak menyukai topik pembicaraan itu, ia memberi respon dengan melihat ke langit-langit, sesekali melihat jam tangannya, dan seterusnya
Perilaku tiga anjing dan dua mahasiswa itu merupakan ikhwal bahasa isyarat. Menunjukkan gigi sambil menggeram, lari tunggang langgang, melihat langit-langit dan jam tangan, dan seterusnya merupakan bahasa isyarat, masing-masing kemarahan, rasa takut, dan kebosanan. Ini adalah inti dari teori interaksionisme simbol yang didirikan oleh sosiolog Amerika, George Herbert Mead (1863-1931), yang juga dikenal sebagai seorang sosiolog pragmatis, karena ia berkeyakinan bahwa semua teori sosial yang ada harus dapat diuji secara praktis, termasuk semua hal tentang kebenaran, pengetahuan, moralitas, dan politik. Interaksionisme simbol merupakan teori yang dicanangkannya sebagai studi perilaku individu dan atau kelompok kecil masyarakat melalui serangkaian pengamatan dan deskripsi. Metode ini berlandaskan pada pengamatan atas apa yang diekspresikan orang meliputi penampilannya, gerak-geriknya, dan bahasa simbolik yang muncul dalam situasi sosial. Jadi sangat berbeda dengan pendekatan yang terinspirasi dari Marxisme yang ingin mempelajari seluruh sistem ekonomi dan politik, para interaksionis mengambil cara pandang akan masyarakat dari bawah, sebagaimana situasi yang diciptakan oleh individu-individu tersebut.

Dengan pendekatan ini Mead dikenal juga sebagai seorang psikolog sosial, karena memang pada akhirnya ia banyak berbicara tentang proses berfikir, konsep diri dalam organisasi sosial, dan pola-pola pengambilan peran orang lain sebagai dasar organisasi sosial.

Kontribusi untuk teori sosial ini juga dilakukan oleh Charles Horton Cooley (1864-1929), seorang sosiolog Amerika yang pernah dekat dengan Mead. Cooley membangun teori relasi sosial yang tak bertitik berat pada kondisi individual (MIKRO) maupun sosial (MAKRO), dengan meyakini bahwa kedua hal itu tak bisa dipisah-pisahkan. Cooley banyak berbicara tentang konsep diri (disebutnya konsep melihat diri di kaca), sifat-sifat manusia, kelompok primer dalam pembentukan sifat manusia, interaksi antara pemimpin politik dan massanya, dan pentingnya arti sosial dalam nilai keuangan. Dalam beberapa hal, Cooley menunjukkan dilema yang dihadapi antara hal-hal yang menjadi warisan biologis dan hal-hal yang menjadi warisan lingkungan sosial.

Hal menarik yang ditunjukkan oleh Cooley adalah perumpamaannya yang mengatakan bahwa sebuah kapal yang dibangun oleh seratus orang yang berbeda, sangat berbeda dengan seratus kapal yang masing-masing dibangun oleh satu orang untuk menjelaskan terjadinya pandangan umum dalam masyarakat yang dibentuk oleh pandangan-pandangan umum yang dimiliki oleh tiap individu yang membangun masyarakat. Pandangan umum MEMBROJOL (emergent) dari pandangan-pandangan individual. Inilah yang menjadi pusat kajiannya.

Di sisi lain, William I. Thomas (1863-1947), juga sosiolog interaksionis Amerika, memusatkan teorinya atas sifat saling ketergantungan organis antar individu dan lingkungan sosialnya dengan metoda yang hampir dapat dikatakan sama dengan metode Mead dan Cooley. Misalnya, Thomas berusaha mengidentifikasi faktor-faktor psikologis dan biologis yang dibawa sejak lahir dan menjelaskan perilaku manusia itu; ia menyimpulkan ada empat hal dasar keinginan manusia, yaitu

(1) keinginan untuk pengalaman baru
(2) keinginan untuk dihargai
(3) keinginan untuk menguasai
(4) keinginan untuk merasa aman

Thomas yakin bahwa perilaku manusia tidak dapat dimengerti dengan baik semata sebagai respon reflektif dari stimulus lingkungan. Ia percaya bahwa ada definisi subyektif yang penting yang ada di antara stimulus dan respon.

Interaksionisme simbol Mead-Cooley-Thomas ini mendapat sambutan dari banyak sosiolog Amerika bahkan hingga kini.

Manford Kuhn (1904-1968), sosiolog yang ingin menstrukturkan metodologi empiris dalam interaksionisme simbol, menyatakan bahwa perlu beberapa perspektif teoretis yang sifatnya terbatas yang tergabung dalam interaksionisme, yaitu teori peran, teori kelompok referens, perspektif persepsi sosial dan persepsi pribadi, teori diri, dan teori dramaturgi. Intinya, Kuhn ingin membuat strategi pengukuran empiris atas konsep-konsep interaksionisme simbol tersebut. Kontribusinya yang terkenal adalah 20-UJI-PERNYATAAN untuk mengukur analisis diri; isinya adalah 20 respon yang diminta dari orang terhadap pertanyaan “Siapakah saya?”.

Hal ini ditentang oleh seorang murid Mead, Herbert Blumer (1900-1987), dengan mengatakan bahwa metoda pengukuran empiris itu bertentangan dengan konsep BROJOLAN (emergence) dari kenyataan sosial. Bagi Blumer, brojolan itu lahir dari aksi dan interaksi, dan segala upaya yang ingin mengukur konsep diri tanpa memperhitungkan aksi dan interaksi berakibat fatal dan gagal dalam mengukur konsep diri dalam sistem sosial. Bagi Blumer, kenyataan sosial dan strukturnya pada dasarnya tak pernah tetap melainkan terus memiliki dinamika oleh karena interaksi antar individu tak pernah berhenti. Segi-segi struktural seperti budaya, sistem sosial, stratifikasi sosial, atau peran sosial MEMBENTUK tindakan individu, tapi TIDAK MENENTUKAN tindakan mereka. Orang yang bermain sebagai penjaga gawang dalam permainan sepak bola TERBENTUK perilakunya dalam pertandingan sepak bola, tapi TIDAK MENENTUKAN bagaimana ia harus bertindak saat gawangnya terancam serangan lawan.

Seorang sosiolog interaksionis lain, Erving Goffman (1922-1983), menitikberatkan teorinya pada konsep dramaturgi. Ia menganalisis berbagai strategi individu dalam meraup kepercayaan sosial melalui konsep-konsep teater, seperti manajemen kesan dan sebagainya. Misalnya, ia menganalisis bagaimana orang cenderung untuk saling menutupi kesalahan dengan teman, atau minimal berpura-pura tidak tahu dan tidak memperhatikan kesalahan teman, dan seterusnya. Pendeknya, baginya sosiologi adalah upaya membedah interaksi antar individu atau kelompok kecil dengan audiensnya, yaitu sistem sosial secara keseluruhan. Lebih jauh ia juga banyak berbicara tentang dasar kontekstual interaksi sosial seperti PEMAHAMAN BERSAMA sebagai KERANGKA di mana peristiwa-peristiwa sosial terjadi. Pendeknya dengan memperhatikan simbol-simbol yang digunakan oleh individu dalam interaksi sosial, interaksionis berkeinginan untuk mencari keterhubungan antara BROJOLAN yang terjadi dari tingkat MIKROSOSIAL ke MAKROSOSIAL secara komprehensif.

1 Komentar »

  1. ajahindra Said:

    Nilai-nilai berubah cepat
    Revolusi budaya?
    kita terlena
    Apa yang sedang terjadi?
    Jin memasuki peradaban manusia
    Budak setan mencoba mendominasi
    Siapa dalang di balik semua ini?
    Bisakah kita lakukan perbaikan?

    http://antimain.wordpress.com


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: